Bambu adalah salah satu tanaman yang sangat dekat dengan masyarakat Indonesia. Bambu juga dapat dikatakan sebagai heritagenya Indonesia, sebagai peninggalan dari zaman nenek moyang kita. Di Indonesia, bambu menjadi tanaman yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Bambu digunakan sebagai bagian dari rumah, alat rumah tangga, alat upacara hingga menjadi alat pelipur lara dengan suara yang dihasilkannya.

Masyarakat Indonesia sejak dulu telah mengenal salah satu pohon dari sekian banyak pepohonan yang tumbuh dan berkembang di daerah tropis. Pohon ini tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dan alam lingkungannya serta dimanfaatkan untuk kebutuhan hajat hidup sehari-hari, baik yang berkaitan dengan sandang, papan, pangan, maupun kebutuhan lainnya yang berkaitan dengan seni.

Bambu, berkaitan dengan seni, dapat dijadikan sebagai medium penghasil suara, menjadikan bambu muncul sebagai bahan pembuatan alat musik. Alat musik yang terbuat dari bahan bambu telah banyak diciptakan oleh para leluhur kita dengan berbagai macamnya seperti; calung, suling, karinding, celempung, arumba, dan salah satunya adalah alat musik angklung.

Angklung merupakan salah satu bentuk budaya tradisional Jawa Barat, yang telah dikenal dalam kurun waktu yang cukup panjang. Alat musik ini terbuat dari sepasang tabung bambu, yang dirangkai dengan beberapa bilah bambu lainnya. Struktur tersebut menghasilkan karakter suara yang unik dan sukar ditiru oleh instrumen musik lainnya.

Perkembangan zaman telah mengubah pola dan tatanan kehidupan bermasyarakat dan lingkungannya. Keadaan politik berdampak juga pada perubahan dalam kehidupan dunia angklung itu sendiri. Keadaan atau nasib angklung di Priangan yang demikian itu berlangsung hampir satu abad. Baru menjelang masa penjajahan Jepang terjadi perubahan yang pada dasarnya merupakan hasil kreativitas dan usaha tidak kenal mundur dari Daeng Soetigna, seorang guru di Kuningan, kelahiran Garut. Pada masa terjadinya gerakan kebangsaan di kalangan bangsa Indonesia yang menggelora, angklung yang sekian lama ikut menjadi korban penjajahan asing, mulai terjaga kembali.

Di Indonesia, terutama setelah tanggal 16 November 2010, angklung ditetapkan sebagai salah satu “Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity” atau peninggalan budaya tak benda dari UNESCO, telah menjadi salah satu seni pertunjukan yang menjadi kebanggaan oleh masyarakat Nusantara (Indonesia), khususnya masyarakat Sunda di Jawa Barat (termasuk Banten). Pengakuan UNESCO ini mempertegas bahwa angklung sudah menjadi identitas budaya bangsa Indonesia yang dianggap penting, karena kehadiran angklung telah memberikan warna atau ciri (identitas) tersendiri bagi bangsa Indonesia, yakni masyarakat agraris tradisional yang mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman menuju kehidupan yang semakin ‘modern’ (peradaban baru).